Selasa, 22 Mei 2012

Di Perjalanan Menuju Tempat Indah Itu ( Season 1)

Di perjalanan menuju tempat indah kemarin , tepat di tepi sungai yang tidak bosannya memberikan kepuasan dahaga bagi penikmatnya, dengan di-iringi oleh riakan air yang berjalan menuju takdirnya, dibayang-bayangi oleh rintik hujan yang gerimis lembut membasahi permukaan dan disaksikan oleh pepohonan hijau yang senantiasa menjadi saksi bisu akan pembuktian kehidupan, serta ditengah keramaian orang-orang yang ternyata adalah kawan-kawanku.

Kulihat Dia berjalan mendekatiku, walaupun gerakannya tidak mengarah kepadaku melainkan bermaksud untuk mendekatkan diri pada tempat indah itu. Dia Berjalan melintasi sungai, menggapai satu per-satu pijakan batu yang menjadi jembatan penghubung kedua tepi sungai itu yang memungkinkannya berjalan ke tepian harapanku. Kulihat Dia berjalan sedikit terlunta-lunta oleh beratnya beban yang dipikulnya sejak tadi, dan juga karena rasa kelelahannya yang memangsejak tadi dia harus mengadapi sendiri medan untuk  menuju ke tempat indah itu.


Tak terkendali, perhatianku seakan-akan tidak kepadanya walaupun kenyataannya tidak. Seakan berpura tak memperhatikannya, tubuhku tak sanggup melakukannya walaupun diriku yang terdalam mendorong sangat kuat untuk tidak bosannya memusatkan perhatianku kepadanya. Kulihat perhatiannya hanya menuju ke tempat indah itu.

Aku tak begitu percaya diri untuk menyaksikan Dia seperti itu, biasanya memang aku hanya sanggup mengintainya dari jauh atau hanya sekedar mencuri pandang ketika Dia dalam kelengahan. Walaupun saat itu terasa sedang terjadi adegan " slow motion " dimana hanya Dia dan aku yang ada disitu. Namun semua seakan-akan hanya sekumpulan melodi yang menjalin harmonika perjalanan kisahku waktu itu menuju tempat indah itu.



Namun semua jadi sia-sia. Aku tak bisa berbuat banyak. Kubiarkan Dia melintasiku dan menjauh dariku menuju tempat yang indah itu. aku tak mampu berkata apapun, terasa ragaku kaku  tapi untung tak sampai kejang . Apa daya, ku biarkan berlalu begitu saja, membuat saksi bisu itu geram kepadaku, "Aku bukan laki-laki", begitu ejekannya kepadaku, walau aku sedikit jengkel akan ungkapan itu, tapi tetap saja aku tak bisa berbuat apa-apa. Sepenggal kisah itu hanya bisa menjadi rangkaian koleksi irama harmoni kisahku yang mengalunkan lagu akan sesuatu yang tak tersampaikan. kusimpan rapat-rapat semuanya hanya aku dan Tuhan yang tahu,  sembari masih menyisahkan setitik harapan akan dia yang terakhir untukku. Akankah Dia adalah teman hidupku menuju tempat indah itu



"Life is beautiful "
Yeah, "hidup ini indah", begitu kata orang-orang yang telah mendapat pencerahan dari kisah hidupnya. Semoga perjalanan yang melelahkan ini adalah perjalanan menuju keindahan. Sebuah perjalanan yang tidak hanya menuju tempat yang indah, tetapi juga perjalanan yang menorehkan kisah yang indah menuju tempat indah itu...

Akankah aku dapat mencapai tempat indah itu?? 
Apakah aku dapat menorehkan kisah indah itu??

Apaka perjalananku ini memang perjalananan menuju keindahan??

Itu tergantng diriku memaknai hidup ini, yang tidak jauh dari defenisi dari "mensyukurih arti hidup".
Yeah, memang benar, hampir seperti yang pernah Dia ungkapkan pada tulisannya yang sempat kubaca, kita harus selalu bersyukur atas apa yang didapatkan agar hari-hari kita adalah rangkaian torehan kisah yang indah, walaupun kisah yang indah itu belum kusampaikan kepadanya...

. . . . .

Mencoba  menuliskan kisah yang masih belum usai,..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Harap komentarnya...