Kamis, 07 Juni 2012

(perjalanan ) W . A . K . T . U . (ku)

Perjalanan   W  .  A  .  K  .  T  .  U .   ku
Dimensi dimana aku ingin menjadi diriku..
Adalah saksi di setiap langkahku..
Adalah penunjuk bagaiamana diriku..

W  .  A  .  K  .  T  .  U . yang tak pernah berhenti
Dan tak akan pernah berhenti.
Meski semuanya mati..
Dengan duka yang tak bisa mati..

W  .  A  .  K  .  T  .  U . adalah harapanku
Yang masih berharap akan hadirnya W  .  A  .  K  .  T  .  U . itu
dan juga adalah  penyesalanku..
Ketika W  .  A  .  K  .  T  .  U . itu telah berlalu

W  .  A  .  K  .  T  .  U . adalah kesempatanku.
Tempat dimana aku dapat menemukanmu.
dan juga bisa menjadi kesempitanku..
Ketika semuanya hampir berlalu.

Dua dekade bahkan  lebih..
Tak cukup membuat letih..
Mengais sisa hidup yang terperih..
Yang dapat terobati dengan kasih...

(mencoba membuat kisah yang akan dikenang di kemudian hari)

Makassar ( dalam ruang yang tidak tak terbatas W  .  A  .  K  .  T  .  U .)
Kamis, 07 Juni 2012, Pukul 02.19 PM









Selasa, 22 Mei 2012

Di Perjalanan Menuju Tempat Indah Itu ( Season 1)

Di perjalanan menuju tempat indah kemarin , tepat di tepi sungai yang tidak bosannya memberikan kepuasan dahaga bagi penikmatnya, dengan di-iringi oleh riakan air yang berjalan menuju takdirnya, dibayang-bayangi oleh rintik hujan yang gerimis lembut membasahi permukaan dan disaksikan oleh pepohonan hijau yang senantiasa menjadi saksi bisu akan pembuktian kehidupan, serta ditengah keramaian orang-orang yang ternyata adalah kawan-kawanku.

Kulihat Dia berjalan mendekatiku, walaupun gerakannya tidak mengarah kepadaku melainkan bermaksud untuk mendekatkan diri pada tempat indah itu. Dia Berjalan melintasi sungai, menggapai satu per-satu pijakan batu yang menjadi jembatan penghubung kedua tepi sungai itu yang memungkinkannya berjalan ke tepian harapanku. Kulihat Dia berjalan sedikit terlunta-lunta oleh beratnya beban yang dipikulnya sejak tadi, dan juga karena rasa kelelahannya yang memangsejak tadi dia harus mengadapi sendiri medan untuk  menuju ke tempat indah itu.


Tak terkendali, perhatianku seakan-akan tidak kepadanya walaupun kenyataannya tidak. Seakan berpura tak memperhatikannya, tubuhku tak sanggup melakukannya walaupun diriku yang terdalam mendorong sangat kuat untuk tidak bosannya memusatkan perhatianku kepadanya. Kulihat perhatiannya hanya menuju ke tempat indah itu.

Aku tak begitu percaya diri untuk menyaksikan Dia seperti itu, biasanya memang aku hanya sanggup mengintainya dari jauh atau hanya sekedar mencuri pandang ketika Dia dalam kelengahan. Walaupun saat itu terasa sedang terjadi adegan " slow motion " dimana hanya Dia dan aku yang ada disitu. Namun semua seakan-akan hanya sekumpulan melodi yang menjalin harmonika perjalanan kisahku waktu itu menuju tempat indah itu.



Namun semua jadi sia-sia. Aku tak bisa berbuat banyak. Kubiarkan Dia melintasiku dan menjauh dariku menuju tempat yang indah itu. aku tak mampu berkata apapun, terasa ragaku kaku  tapi untung tak sampai kejang . Apa daya, ku biarkan berlalu begitu saja, membuat saksi bisu itu geram kepadaku, "Aku bukan laki-laki", begitu ejekannya kepadaku, walau aku sedikit jengkel akan ungkapan itu, tapi tetap saja aku tak bisa berbuat apa-apa. Sepenggal kisah itu hanya bisa menjadi rangkaian koleksi irama harmoni kisahku yang mengalunkan lagu akan sesuatu yang tak tersampaikan. kusimpan rapat-rapat semuanya hanya aku dan Tuhan yang tahu,  sembari masih menyisahkan setitik harapan akan dia yang terakhir untukku. Akankah Dia adalah teman hidupku menuju tempat indah itu



"Life is beautiful "
Yeah, "hidup ini indah", begitu kata orang-orang yang telah mendapat pencerahan dari kisah hidupnya. Semoga perjalanan yang melelahkan ini adalah perjalanan menuju keindahan. Sebuah perjalanan yang tidak hanya menuju tempat yang indah, tetapi juga perjalanan yang menorehkan kisah yang indah menuju tempat indah itu...

Akankah aku dapat mencapai tempat indah itu?? 
Apakah aku dapat menorehkan kisah indah itu??

Apaka perjalananku ini memang perjalananan menuju keindahan??

Itu tergantng diriku memaknai hidup ini, yang tidak jauh dari defenisi dari "mensyukurih arti hidup".
Yeah, memang benar, hampir seperti yang pernah Dia ungkapkan pada tulisannya yang sempat kubaca, kita harus selalu bersyukur atas apa yang didapatkan agar hari-hari kita adalah rangkaian torehan kisah yang indah, walaupun kisah yang indah itu belum kusampaikan kepadanya...

. . . . .

Mencoba  menuliskan kisah yang masih belum usai,..


Sabtu, 12 Mei 2012

Just Simply Simple



Just simply simple
Itu yang kuinginkan

Aku tak ingin menyulitkan hidupku yang memang sudah sulit
Aku tak ingin memaksakan diriku untuk melampaui batas kemamapuanku
Aku tak bisa terus  berjalan diatas permadani kerumitan itu
Aku tak bisa bermain lagi dengan gaduhnya keramaian itu
Aku tidak sangup memikirkannya semuanya...


Just simply simple
Itu yang kuinginkan

Seperti air mengalir membawa ke lautan keabadian
Seperti Udara yang berhembus mencari nafas yang memerlukan
Seperti apa adanya yang dapat terlihat
Seperti apa adanya yang dapat terasa...


Just simply simple
Itu yang kuinginkan

Ku ingin jadi diriku
Diriku bukan Dirinya
Dan aku tak mau jadi dirinya
Serta tidak mau jadi seperti dirimu
Aku hanya mengagumimu
Akan kulakuan sesuai caraku...




Just simply simple
Itu yang kuinginkan

Walaupun tak akan pernah kudapatkan
Karena memang begitu adanya
Ku tak biasa lari dari kenyataan itu...



5 - 4 - 6 - 3

Dalam Kegelisahan di keheningan malam

Kamis, 03 Mei 2012

Sebuah Kisah yang belum Usai..

Tepat 3. 19 PM, aku mulai menulis..
Entah dari mana ide, aku tak tahu, biar saja berlalu..
Atau bahkan bukan ide yang ku dapat, hanya sekedar bualan..
Sekedar ku ungkapkan, apa yg terlintas di pikiranku,..
Menulis begitu saja, tak peduli seberapa jelek tulisannya..



Ku ingi bercerita tentang kita dulu
Tentang tawa itu..
tentang kebodohan waktu itu
Tentang canda itu..
Tentang tangismu..
Tentang tangisnya kemarin..
Tentang hal yg belum sempat saya ceritakan..
Juga tentang yg masih kurahasiakan kepadamu..

Ku ingi menceritakan kepadamu..
Tentang cintanya..
Cintamu..
dan Cintaku..
Tentang Cinta segitiga kita yang belum kamu ketahui..

Ku tak tahu kenapa ini harus terjadi..
Juga kutak mau hal ini terjadi..
Semua berjalan begitu saja..
Ku tak mau menyakitimu..
Juga tak mau menyakitinya..

Dan satu hal lagi yang ingin kuceritakan..
Tentang cinta mereka..
Cinta selain kita..

Sekret BPM FK Unhas
2 Mei 2012
Sebuah kisah masa lalu yang belum usai walaupun sudah berakhir..





Rabu, 28 Maret 2012

Sahabatku yang Pergi


Pergilah sahabatku dengan damaimu meninggalkan penderitaanmu...
Pergilah sahabatku dengan meninggalkan cita-cita duniamu...
Pergilah sahabatku walau aku belum puas bersamamu...
Pergilah sahabatku tuk jalani hidupmu yang baru...

Selamat jalan Sahabatku walau aku masih sangat ingin melihatmu di dunia ini...
Selamat jalan Sahabatku, dengan senyummu yang masih terlihat di mataku...
Selamat jalan Sahabatku, walau kamu akan selalu hidup di hati..
Selamat Jalan Sahabatku, walau senyummu adalah kebahagiaanku..

Pergilah sahabatku walau aku selalu merindukanmu...
Pergilah sahabatku entah aku akan dapat sahabat sepertimu...
Pergilah Sahabatku dengan do'aku yang selalu mengiringimu...
Pergilah sahabatku semoga mendapat kebahagiaanmu..

Terasa masih kemarin aku bersamamu, menjagamu, dan mendengar tawamu..
Aku masih dapat merasakan bagaimana sentuhan kulitmu, rambutmu, tanganmu..
Kuingin sekali melihatmu memakai seragam sekolah dengan senyum bersemangatmu..
Hal yang kusesali bahwa aku yakin akan kesembuhanmu dulu..

Maafkan aku karena belum berbuat yang terbaik bagimu..
Maafkan aku karena aku belum memenuhi semua janjiku kepadamu...


Pattallassang, 28 Maret 2012 
Mengenang sahabatku yang telah pergi

Manajemen Emosi

Emosi: Kunci Rahasia Kebijaksanaan 

 Journey into the less explored universe of own mind is the most exciting and challenging adventure that only a few dare to enjoy
- Adi W. Gunawan 

Kalimat pembuka di atas adalah hasil perenungan saya dalam proses perjalanan ke dalam diri. Ternyata pikiran adalah suatu alam yang begitu luas dan sangat jarang dijelajahi oleh kebanyakan orang. Pikiran adalah the last frontier yang menyimpan begitu banyak misteri dan keajaiban. Artikel berikut mengulas salah satu aspek yang berhubungan dengan pikiran yaitu aspek perasaan atau emosi. 

Minggu lalu saya mendapat telpon dari seorang kawan lama, sebut saja Budi, yang berkeluh kesah mengenai keadaan dirinya. Banyak hal yang ia keluhkan. Mulai dari kondisi keuangannya, keadaan kesehatannya, keadaan keluarganya, lingkungan kerjanya dan masih banyak lagi.

 “Saya stres berat nih!” keluhnya.

 ”Kamu berkata ’saya’ stres berat. Bagian mana dari dirimu yang mengalami stress?” tanya saya sambil mulai berusaha mengubah mental state-nya.

 ”Maksudmu?” kawan saya balik bertanya dan mulai terlihat bingung.

 ”Tadi kamu bilang bahwa kamu stress berat. Saya ingin tahu bagian mana dari dirimu yang mengalami stress berat itu?” tanya saya lagi.

 ”Ya benar. Saya lagi stres berat. Saya nggak ngerti pertanyaanmu,” jawab Budi semakin bingung. ”Begini Bud. Manusia terdiri dari badan dan batin. Nah, bagian mana dari dirimu yang merasakan stres? Badan? Pasti merasakan. Badanmu pasti merasa tidak enak karena setiap bentuk emosi akan berakibat pada tubuh fisik. Selain itu yang lebih penting lagi adalah kamu perlu mengerti aspek batinmu. Batin manusia terdiri dari empat komponen yaitu: pikiran, perasaan, ingatan, dan kesadaran,” jawab saya. 

 ”Trus... kalau saya frustasi... bagian mana yang merasakan frustasi? Bukankah yang merasakan frustasi adalah diri saya?” tanyanya dengan penasaran. 

Pembaca yang baik. Apa yang saya jelaskan berikut ini adalah ringkasan dari hasil diskusi kita mengenai perasaan atau emosi. 

Setiap kali kita merasa tidak enak, secara mental, maka yang terkena sebenarnya adalah perasaan kita. Aspek perasaan inilah yang akan menderita setiap kali kita merasakan emosi ”negatif”. Sengaja saya memberikan tanda kutip karena sebenarnya semua emosi adalah baik atau positip.

Lalu dari mana asalnya emosi? Apa hubungannya dengan kejadian yang kita alami setiap hari? 

Sebelum bicara mengenai emosi saya ingin mengulas sedikit mengenai proses berpikir. Setiap kejadian yang kita alami bersifat netral. Tidak ada kejadian yang baik ataupun buruk. Shakespeare dengan sangat indah berkata, ”There is nothing either good or bad, but thinking makes it so”. Jadi, baik atau buruknya suatu kejadian semata-mata bergantung pada makna yang diberikan oleh pikiran kita. 

 Pemberian makna ini sebenarnya berlangsung sangat cepat dan terjadi di pikiran bawah sadar. Contohnya? Misalnya anda sedang mengendarai mobil dengan santai dan tiba-tiba sebuah mikrolet menyalip anda dengan cepat dan langsung berhenti mendadak di depan anda. Anda sangat kaget dan untung masih sempat menginjak rem sehingga tidak sampai menabrak mikrolet itu. Bagaimana reaksi anda? Pada umumnya orang akan langsung marah, memaki, atau mengumpat si sopir mikrolet. 

Ceritanya akan lain bila ternyata anda baru menang hadiah utama, sebesar Rp. 1 Milyar, dari suatu bank. Saat itu hati anda sedang gembira. Dan saat anda disalip mikrolet, anda akan berkata, ”Kasihan ya sopir ini. Rupanya lagi ngejar setoran. Maklum ekonomi lagi sulit. Ada baiknya saya menyumbangkan sedikit rejeki saya buat sopir malang ini.” Anda kok tidak marah?

Nah, makna yang kita berikan, dari setiap kejadian yang kita alami, selanjutnya akan mencetus/men-trigger emosi yang ada di pikiran bawah sadar. Emosi ini selanjutnya akan menentukan respon/reaksi kita.

Tadi saya mengatakan bahwa semua emosi adalah baik. Tidak ada emosi yang negatip. Apa maksudnya? Anda mungkin heran dengan pernyataan ini. Bukankah emosi ”marah”, ”kecewa”, ”frustasi”, dan sejenisnya adalah emosi negatif? 

Sebelum saya teruskan uraian saya, saya ingin bertanya kepada anda, ”Berapa banyak kosa kata, tentang emosi, yang anda kuasai?” Banyaknya kosa kata yang anda kuasai, mengenai emosi, mencerminkan kecerdasan emosi anda. Lho kok bisa? Umumnya orang hanya mengenal beberapa kata yang mewakili emosi. Misalnya kata ”marah”, ”kecewa”, ”frustasi”, atau ”stres”. Karena mereka hanya menguasai beberapa kata saja maka setiap kali mengalami emosi ”negatif” maka mereka langsung berkata, ”Saya lagi stres”. Singkat kata semua kondisi emosi dianggap stres. Benarkah demikian? 

Ada banyak kata yang mewakili emosi. Misalnya sedih, stres, putus asa, kecewa, marah, senang, bahagia, frustrasi, gembira, gelisah, depresi, terluka, iri/dengki, kesepian, rasa bosan, takut, jengkel, khawatir, cemas, rasa bersalah, tersinggung, dendam, sakit hati, rasa tidak mampu, benci, perasaan tidak nyaman, bahagia, tersanjung, dan cinta. 

Lalu apa sih gunanya emosi? Emosi sebenarnya merupakan sinyal komunikasi yang berasal dari pikiran bawah sadar. Setiap emosi mempunyai makna dan tujuan yang sangat spesifik yang sangat bermanfaat bagi diri kita. Namun sayang, tidak banyak orang yang tahu, mau repot-repot untuk mencari tahu, atau benar-benar mengerti makna yang terkandung dalam setiap emosi. 

Misalnya emosi ”marah”. Mengapa kita marah? Marah berarti ada pengharapan kita yang tidak terpenuhi atau kita merasa telah diperlakukan secara tidak adil oleh orang lain. 

Emosi menjadi sesuatu yang negatif bila kita tidak mampu mengartikan pesan yang terkandung dalam emosi itu. Emosi berakibat negatif bila kita dikuasai olehnya. Lalu bagaimana cara untuk bisa menguasa emosi kita? Cara mudah. Kita perlu memahami bahwa pikiran logis dan emosi tidak dapat aktif dalam waktu bersamaan. Salah satu pasti menguasai yang lain. 

Jadi, bila emosi yang dominan maka pikiran logis tidak dapat bekerja. Demikian sebaliknya. Saat pikiran logis sedang aktif maka emosi kehilangan daya pengaruhnya. Hal ini bisa terjadi karena perasaan atau emosi sebenarnya adalah bentuk pikiran juga. Dengan mengubah pikiran maka perasaan akan berubah.

Cara paling mudah untuk menguasai dan menghilangkan pengaruh negatip suatu emosi adalah dengan melakukan analisa atau mencari tahu makna yang terkandung dalam setiap emosi yang sedang anda rasakan.

Misalnya anda sangat marah. Daripada larut dalam kemarahan anda, lakukan analisa. Hal ini memang tidak mudah. Namun anda harus disiplin untuk memaksa diri anda melakukan analisa. Caranya? Tanyakan kepada diri anda, ”Mengapa saya marah?”, ”Apakah karena mood saya lagi nggak enak atau ada sebab lain?”, ”Apakah benar saya telah diperlakukan tidak adil oleh orang lain?”, ”Apakah benar emosi yang saya rasakan saat ini adalah emosi marah?”, ”Apakah saya telah memberikan makna yang tepat atas apa yang saya alami?”, Apa yang saya bisa lakukan selain larut dalam kemarahan?” 

Saat anda bertanya pada diri anda saat itu pula fokus anda mulai beralih. Saat anda mencari jawaban atas pertanyaan anda saat itu pula pikiran logis anda bekerja dan menjadi dominan. Bila anda sering melakukan analisa terhadap perasaan anda maka anda akan semakin mengenali diri anda dan akan timbul kebijaksanaan.

Bagaimana dengan emosi takut? Perasaan takut adalah suatu emosi yang sangat positif. Apa maknanya? Emosi takut adalah sinyal komunikasi yang dikirim pikiran bawah sadar ke pikiran sadar dengan pesan bahwa akan terjadi sesuatu di masa depan, di mana anda merasa tidak siap untuk menghadapinya. Dengan kata lain, emosi takut sebenarnya membawa pesan ”antisipasi”.

Misalnya? Saat anda mau ujian skripsi. Anda merasa takut. Nah, daripada hanya sekedar ketakutan, anda harus menyiapkan diri dengan sungguh-sungguh. Anda takut karena anda merasa tidak siap. So... siapkan diri anda dengan lebih baik. Sederhana, kan? 

Bagaimana dengan emosi lainnya? Misalnya rasa bosan. Rasa bosan artinya apa yang kita lakukan sekarang ini kurang menantang. Itulah sebabnya kita bosan. Lalu, apa yang harus dilakukan? Kita perlu menetapkan suatu target yang sedikit lebih tinggi dari biasanya sehingga kita merasakan tantangan dan dorongan untuk lebih giat bekerja. 

So, berbahagialah bila anda yang merasakan up and down suatu emosi. Anda akan semakin bijaksana karena mendapat pesan dari guru kebijaksanaan.

Oh ya, satu hal lagi. Kalaupun anda tidak mau menganalisa atau tidak tahu makna dari suatu emosi yang sedang anda rasakan, anda cukup berdiam diri atau menahan diri untuk tidak menuruti emosi anda. Mengapa? Karena emosi sama dengan pikiran. Sekarang muncul, selang beberapa saat lagi akan menghilang. Muncul lagi, lalu hilang lagi.

(disadur dari Tulisan Adi W. Gunawan)